Oleh: srikandiindonesia | Juni 1, 2008

The Rise of India

Judul : The Rise of India

Transformasi dari Kemiskinan Menuju Kemakmuran

Penulis : Niranjan Rajadhyaksa

Penerbit : PT Elex Komputindo

Kelompok Gramedia – Jakarta

Tahun Terbit : 2007 published by Jhon Willey and Sons

Tebal : 225 halaman

Buku yang ditulis tokoh ekonom India ini, menceritakan proses kebangkitan India dari Negara yang tidak pernah disebut dalam peta ekonomi dunia. Menjadi Negara yang diperbincangkan, bahkan sering disandingkan dengan kebangkitan di Cina. Dari negara yang diyakini “dikutuk” untuk menjadi melarat, menjadi negara yang diprediksi memegang peranan sebagai sumber teknologi di dunia. Mari kita tilik perkembangan India dengan tabel yang terdapat di bagian pendahuluan buku :

Tabel 1

Pangsa India dalam Ekonomi Dunia (%)

Tahun

1500

1600

1700

1820

1900

1950

1990

2000

Pangsa

24.36

22.43

24.44

16.02

8.6

4.17

4.05

5.27

sumber Angua Maddsion

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa India kehilangan jalur ekonominya setelah abad ke -18. Namun, kini India telah siap merebut lagi posisinya. Seperti di buku ini sebutkan bahwa satu dari setiap enam orang di India memiliki peluang yang lebih baik dibandingkan sebelumnya untuk menerobos penghalang kemiskinan dan inersia ekonomi yang ada selama berabad – abad.

Buku ini terdiri 9 Bab. Dari keseluruhan BAB yang saya potret yaitu bagaimana India bangkit, India miskin dan India dengan Agenda Global.

Kebangkitan ekonomi India, terjadi setelah mengalami 3 fase kebijakan Ekonomi. Industrialisasi pertama kali yang diterapkan adalah Industri tekstil dengan produksi kain katun. Keuntungan besar dari tekstil ini bahkan mampu diputar ke dalam pebankan, pengapalan hingga skema pembangunan daerah. Namun, akibat spekulan Eropa, industri tekstil India mengalami kerugian besar. Dampaknya, hampir seabad India “membalikan punggungnya” dari ekonomi global. Tercatat hingga 1990, India telah menjadi negara dengan proteksi paling tinggi. Masa – masa “ekonomi tertutup” inilah yang menjadi tahap awal kebijakan ekonomi di India.

Tahap Kedua, adalah masa revolusi ekonomi India yang dimulai tahun 1980-an. Ekonomi secara perlahan mulai terbuka, walaupun nilai impor masih melambung tinggi.

Kemudian Tahap Ketiga adalah masa dimana India berada pada ekonomi dunia (global) yang merumuskan strategi baru terkait efisiensi biaya produksi. Untuk menekan biaya produksi serendah mungkin, upah pekerja murah adalah strategi yang sangat masuk akal. Maka munculah wacana untuk melakukan pengalihdayaan (outsourcing) produksi pada negara dengan upah pekerja murah. India dengan jumlah penduduk terbesar ke-2, menjadi “sasaran” bagi outsourcing ini. Perusahaan telekomunikasi dan Industri mendirikan cabang produksi di India dan berkembang pesat disana. India dengan tepat mengantisipasi outsourcing ini dengan perdagangan dan spesialisasi yang akan menghasilkan produktivitas dan penghasilan lebih besar.

Kecermelangan India dalam Globalisasi, terbukti kemampuan India pada berada di puncak (atau hampir mendekati Global) adalah jasa perangkat lunak. Penguasaannya terhadap teknologi berbasis BIT dan BYTE, menyebabkan ketakutan merebak di dunia Internasional, karena 2 tahun pasca outsourcing, saat jutaan orang membawa gadget iPod apple, yang perusahannnya berpusat di Santa Clara, California. Ternyata sebagian besar pembuatan chip dilakukan oleh anak cabangnya di Hyderabad, India. Bagi sebagian orang, iPod adalah representasi mini ekonomi global.

Kebangkitan di India kemudian dicatat oleh Andrew Leonard dalam Der Spiegel tentang segitiga emas dunia baru bahwa setiap negara mengontribusikan pekerjaannya terbaiknya –perkembangan berbiaya rendah di India, pabrikasi di China, desain tingkat tinggi di Amerika Serikat. Dan yang mengejutkan dari revolusi teknologi di India adalah 150 perusahaan memindahkan sebagian pekerjaan riset dan pengembangannya ke India pada akhir 2005, termasuk raksasa semacam Microsoft, Intel, Nokia. Banyak diantara mereka awalnya datang untuk menghemat biaya, tetapi sekarang berinvestasi untuk memanfaatkan ketrampilan intelektual India. Kunci kebangkitan ekonomi india terletak pada revolusi telekom dengan usaha pertamanya memperbaiki infrastruktur yang compang – camping (hal 6). Teknologi India terus mengalami Revolusi besar-besaran hingga puncaknya adalah kemampuan mengekspor perangkat lunak. Sejarah modern menandai keberanian ekonomi India tampak sebagai ancaman bagi seluruh dunia.

Membandingkan pertumbuhan ekonomi antara India dan Cina, buku ini memaparkan fakta yang menarik. Bahwa Sejak awal tahun 1990, India telah menanamkan seperempat dari PDBnya dan mendapatkan tingkat pertumbuhan sekitar 6%, sedang Cina mengalami pertumbuhan 9% untuk penanaman setengah dari PDBnya. Gampangnya, India membutuhkan empat unit modal untuk satu keluaran, sedang Cina butuh lima unit modal untuk satu keluaran. India menggunakan modal lebih merata dan efisien. Itu alasan di India hanya memiliki segelintir jalan raya yang baik tetapi banyak perusahaan berkelas dunia. Ternyata sistem demokrasi yang diterapkan di India walaupun masih kacau pelaksanaannya, membuka akses yang lebih cepat dibanding Cina dengan sistem otoriternya. Kesuksesan ekonomi India lebih dilandaskan pada energi kewirusahaan penduduknya dibandingkan kebijakan Pemerintah.

II. India Miskin

Kendati industri jasa perangkat lunak (software) India mampu menembus pasar global, tidak berarti India mampu membebaskan diri secara total dari kemiskinan. Negara berpenduduk 1 milayar di tahun 2000 ini, masih menyisakan 125 juta penduduk yang kelaparan. Kegagalan terbesar lainnya dari Republik India adalah ketidakmampuannya memastikan bahwa setiap anak bersekolah. Tahun 2000, Kementrian Pengembangan SDM India mencatat prosentase dewasa yang buta huruf sekitar 44,2%.

Namun, ada satu subab yang membuat saya mengacungkan 4 jempol adalah strategi pemerintah India memerangi kebodohan, yakni MAKANAN UNTUK BERPIKIR. Kesadaran orang tua di India untuk mengirim anaknya ke sekolah sangat rendah. Hingga pemerintah India memiliki alternatif menyediakan makan siang gratis bagi murid – murid sekolah. Karena masalah berakar pada kelaparan, dengan kebijakan “makan siang” ini, anak – anak berbondong – bondong belajar ke sekolah.

Yang lebih mencengangkan lagi, bagaimana India mengembangkan project baru melakukan bisnis perbankan dengan orang miskin. Di wilayah Guntur, kota kecil di Selatan India, yang dikelilingi perkebunan tembakau dan cabai. Adalah ICICI Bank, bank terbesar kedua dan paling inovatif berkeyakinan bahwa memberi jasa layanan keuangan kepada kaum miskin dapat menjadi pertumbuhan perbankan India. ICICI membangun beberapa ATM di sekitar Gunutr. ATM dijalankan dengan teknologi tenaga Solar (pasokan energi terbesar di India), dihubungkan ke pusat koneksi dengan wireless dan mengidentifikasi pelanggan dengan teknik biometrik sidik jari (karena tingkat buta huruf yang tinggi). ATM di pasang di beberapa toko lokal, penjaga toko menjadi ujung tombak bank, Dengan cara ini kebutuhan membangun bank cabang yang mahal terpangkas sudah.

III. INDIA DAN AGENDA GLOBAL

India mengawali pertegasan posisi di kancah perdagangan global dengan kebijakan ekonomi terbuka dan memfokuskan pada akuisisi luar negeri. Target yang hendak dicapai adalah penigkatan nilai ekspor yang lebih besar daripada impor. Peningkatan kerja dilakukan pada beberapa industri perangkat lunak yang hampir menyentuh 20%.

Populasi India yang meledak, bukan lagi menjadi kutukan tapi menjadi anugrah. Karena negara yang telah menjejalkan 17% populasi dunia ke dalam 2,2% daratan dunia ini, memiliki komposisi penduduk yang potensial. India mengarah pada titik manis demografi dimana polanya akan bertahan selam 15 tahun. India tetap muda saat dunia kian tua. Maksudnya, populasi India banyak “menyimpan” usia muda sampai sekitar dua dekade berikutnya, saat dimana negara – negara maju (barat), makin “menua” karena angka kelahiran yang sedikit. Hingga muncul kekhawatiran negara maju akan menanggung usia tua alias tidak produktif lebih besar. Yang harus dilakukan India dengan lonjakan populasi anak muda adalah dengan kebijakan ekonomi dan sosial yang mampu menyulut energi kreatif kebanyakan orang India.

Ramalan masa depan ekonomi dunia sangat menarik dan tentu saja mencengangkan. Riset paling terkenal berkaitan dengan masa depan India adalah kepunyaan bank Goldman Sachs. Rangkaian riset yang diterbitkan pertama kali pada Oktober 2003, memprediksikan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi India akan bergerak naik beberapa tingkat dalam tahun-tahun mendatang. India pada akhirnya akan tumbuh lebih cepat dari Cina.

Ekonom Goldman Sach, Dominic Wilson dan Roopa Purshotman dalam Dreaming of BRICs : The Path To 2050 ( Global Economic paper No.99) mengatakan bahwa lebih dari 50 tahun ke depan, apa yang mereka sebut ekonomi BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Cina) dapat menjadi kekuatan yang lebih besar dalam ekonomi dunia. Pemodelan riset yang mereka gunakan mempertimbangkan tiga faktor utama yakni pertumbuhan populasi, akumulasi modal, dan pertumbuhan produktivitas. Dalam angka, Goldman Sach memprediksikan India akan mengambil alih Italia pada tahun 2015, Prancis pada tahun 2020, Jerman pada tahun 2023, dan Jepang pada tahun 2032. Sedang Ekonomi Cina akan menjadi lebih besar daripada yang lain pada tahun 2016 dn bahkan lebih besar dari ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2041.

CIA juga memprediksikan hal tersebut, lewat Proyek 2020 dalam konteks geopolitik global. Dalam proyek tersebut terdapat ramalan ekonomi, dan meyakinkan bahwa India dapat mempertahankan tingkat kemajuannya lebih lama dari Cina. CIA menyebutkan ada 3 faktor yang mempengaruhinya: pertama, populai produktif India terus meningkat sampai tahun 2020, Kedua, Institusi India yang demokratis membuat lebih kebal terhadap kestabilan politik dan ketiga, India memiliki pasar modal yang berkembang baik dan perusahaan kels dunia yang akan membantu mempertahankan daya saing jangka panjang. Deutsche Bank menambahkan ramalan tentang kecermelangan masa depan India jika reformasi semakin Agresif, pertumbuhan riil PDB dapat mencapai 7% – 8% per tahun. Secara perkapita berlipat dari sekarang sebesar $ 2.500 menjadi $ 5.000.

Setelah membaca buku ini, kebangkitan India membuat tidak hanya saya, tapi seluruh dunia tercengang. India tengah meniti jalan menjadi macan Asia. Ada joke yang menarik melalui T-Shirt yang berkembang di Eropa bertuliskan : I have been Bangalored ( Saya telah di-Bangalore-kan). Bangalore adalah kota pembibitan insiyur dan teknokrat, dan merupakan pusat teknologi yang “mengambil” pekerjaaan orang – orang Eropa akibat adanya outsourcing.

Hmm…. Kelar juga baca buku yang ekonomi banget…bacalah untuk merumuskan masa depan Indonesia


Tanggapan

  1. pinjem donk. gw da rencana jalan2 ke bangalore & hyderabad. mw lihat ulahnya anak2 muda India ngemajuin negaranya

  2. [...] Dari buku The Rise of India : Kecermelangan India dalam Globalisasi, terbukti kemampuan India pada berada di puncak (atau hampir mendekati Global) adalah jasa perangkat lunak. Penguasaannya terhadap teknologi berbasis BIT dan BYTE, menyebabkan ketakutan merebak di dunia Internasional, karena 2 tahun pasca outsourcing, saat jutaan orang membawa gadget – iPod apple, yang perusahannnya berpusat di Santa Clara, California. Ternyata sebagian besar pembuatan chip dilakukan oleh anak cabangnya di Hyderabad, India. Bagi sebagian orang, iPod adalah representasi mini ekonomi global. [...]


Beri tanggapan

Your response:

Kategori