Mari melanjutkan kisah hidup melangkahkan kaki ke S2. Bagi anda yang membaca posting kali ini, silahken lulus dulu di materi kuliah #21 sept dan #21 sept 2011 cont.

Alasan masuk S2 karena Pembuktian dan Cita – cita.

Pembuktian. Pada diri sendiri, pada orang tua dan pada public opinion maupun kondisi umum yang menyatakan seorang Aktivis selalu identik dengan A-tipis (maksudnya dunia aktivis berbanding terbalik dengan dunia kuliahya). Memang saya tidak begitu sukses dalam kuliah s1, karena gagal mengatur waktu dan menyiasati teamwork. Tapi bukan berarti saya bodoh di kuliah. Bukan karena saya malas. Tapi karena saya memilih “dunia lain” dengan sesadar2nya dan sangat bertanggung jawab dan tidak pernah menyesal, sedikit pun.

Cita –cita. Sejak dulu saya selalu menyukai dunia logika. Dulu pas SMA pun menyukai fisika, yang menurut saya konsep nya aneh. Dan jurusan Teknik Elektro telekomunikasi adalah dunia baru yang memusingkan tapi menyenangkan. Tahukah anda definisi yang tepat untuk menggabungkan memusingkan dengan menyenangkan? yaitu seksi. Saya menyukai dunia telekomunikasi. Rekayasa trafik, konsep sinyal, konsep digitalisasi, perangkat. Semuanya menurut saya seksi. Dan saya memutuskan akan berkarir dalam dunia yang saya sukai. Aktivis atau Telekomunikasi. Dan saya memilih telekomunikasi.

Alasannya, dunia aktivis merupakan –kalo sekedar mencari uang adalah dunia yang sangat menjanjikan. Apalagi jika kita memiliki banyak jaringan, memiliki banyak dukungan dan satu lagi tukang menjual kepentingan, hehehe. Bagi orang2 macam itu, dunia aktivis adalah “dunia basah” yang berkutat pada network dan proposal. Saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Tapi jika saya menjadi aktivis, maka harus idealis terhadap keberpihakan pada yang lemah dan yang benar. Dan saya tidak mau “menjual” skill jaringan, opini maupun membangun basis massa untuk sesuatu yang diperdagangkan untuk partai, untuk calon anggota dewan, calon walikota dan calon2 lainnya. Apakah anda sudah mengerti dengan maksud saya?, jika tidak aaah ndak penting juga, kan mo cerita perjalanan organisasi vs kuliah S2, hohoho.

Saat itu kebetulan skripsi saya dibimbing oleh sekjur S2 , beliau adalah pak Soni. Dari diskusi skripsi saya yang sederhana, ditambah ngobrol2 tentang S2, saya tertarik.  Setelah deal dengan  ortu akhirnya dapatlah saya S2. Setelah lobi2 dengan pak Soni, saya bisa dapat beasiswa. Dimana akhirnya saat wawancara beasiswa saya lepaskan kesempatan itu, karena harus mendampingi buruh yang sedang advokasi dengan anggota dewan kota Bandung. Hehehe, jangan lemparin saya pembacaaa…

Akhirnya kontrak dengan orang tua musti dirubah, ibuku – ibu paling hebat sedunia –siap membiayai kuliah s2 tapi biaya hidup harus nyari sendiri. Singkat cerita, saya kuliah di S2 teknik elektro dan mengambil jurusan manajemen telekomunikasi. KAMMI daerah Bandung saat itu sedang dalam masa pasca pilkada kota, dengan calon terpilih adalah incumbent yang kita nilai telah gagal mengelola kota Bandung. Mulai dari korupsi, tata kota, lingkungan, buruh dan banyak lagi. Secara internal organisasi, saat itu KAMMI Bandung siap berakhir masa kepengurusannya. Mendekati reorganisasi.

Saya harus fokus dengan kuliah S2 saya. Saya menyakini 1 hal, jika saat S1 saya sibuk organisasi tapi 5 tahun bisa lulus, apalagi S2 saya pasti bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan (*naikin  dagu dikit). Selain harus fokus, saya berprinsip untuk ”mewariskan” semua jaringan ke kader yang akan melanjutkan organisasi KAMMI daerah Bandung. Kenapa? Karena kita adalah kader – kader yang sedang membangun sebuah organisasi, bukan karir pribadi. Jadi seharusnya yang dikenal elemen lain adalah KAMMI Bandung bukan Mega. Karena salah dua hal penting dari organisasi adalah sistem dan kaderisasi, bukan pada penokohan.

Sejak saat itu, mulai konsen di kuliah S2 dan mewariskan jaringan gerakan pelan – pelan. Caranya saya memilih kader yang kompeten, kemudian mengajaknya rutin mengikuti rapat – rapat jaringan. Sesekali, saya tidak menghadiri rapat jaringan dan mendelegasikan pada nya. Pun jika wartawan mengontak atau ingin melakukan wawancara secara perlahan saya delegasikan pada kader tersebut.

Jangan dianggap bahwa melepas sesuatu yang telah membesarkan kita merupakan hal yang gampang. Saya harus melawan post power syndrome yang muncul. Dari yang awalnya selalu memimpin rapat, menawarkan ide, memimpin aksi, diliput media, disegani jaringan, dan seterusnya dan seterusnya. Sekarang harus meng-handover semua “kebesaran” itu. Saya mengakui ada rasa “kehilangan” atas yang apa yang telah saya bangun sebelumnya. Tapi  itulah peran organisasi dalam mendidik kita untuk menjadi orang – orang besar.

Akhirnya kepengurusan KAMMI daerah Bandung selesai. Tapi masih ada KAMMI Jawa Barat menanti untuk dikelola. Nah, dari sini saya mulai membuat batasan, saya di KAMMI hanya sebatas staf dan memilih departemen kemuslimahan, bukan deparemen jaringan maupun departemen kebijakan publik. Beberapa alasan karena saya departemen jaringan dan kebijakan publik membutuhkan mobilitas. Sedangkan itu sesuatu yang tidak bisa saya berikan ketika saya sudah memutuskan untuk memilih S2. Kemudian  isu – isu departemen muslimah merupakan sesuatu yang menarik pemikiran saya saat itu, karena menurut saya departemen kemuslimahan harus berkembang menjadi departemen yang besar di KAMMI.

Disisi lain, kehidupan akademik S2 merupakan hal – hal menarik yang dulu pernah kutinggalkan. Konsep telekomunikasi, kerumitan soal, teman – teman yang semangat, riset, analisis. Benar – benar, membuatku menemukan sesuatu yang “hilang”. Yang dulu tak pernah kumaintain dengan baik.

Dan sampai akhirnya saya mendapat tawaran menjadi dosen part time di universitas komputer Indonesia. Melengkapi sudah semua cita – cita yang saya inginkan. Menurutku, ini semua karena janji Allah yang tidak pernah meleset, bahwa Allah akan menolong orang – orang yang menolong agama Allah. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu (QS.47:7).

Dari saya yang sebelumnya terkenal sebagai aktivis yang “gagal”-versi mereka- di dunia perkuliahan, kemudian saya merasa “diangkat derajat” oleh Allah, dengan diberi kesempatan menjadi dosen. Sangat worthy bukan, perjalanan menukar jam – jam kuliah dengan demonstrasi dan sebangsanya.

“sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu

Ku akan menaklukan malam, dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas

Keresahan – keresahan ini, kegelisahan manusia

Retaplah malam yang dingin,

Tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka teki malam

Tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka teki keadilan”

OST GIE

Advertisement