Home » secangkir kopi » Membangun Kekuatan Pikiran

Membangun Kekuatan Pikiran

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 3,807 other followers

Tamu

  • 20,828 hits

Akal, adalah properti manusia paling unik diantara ciptaan Allah yang lain. Akal inilah yang membuat manusia sebagai makhluk NYA yang TERBAIK. Sebagaimana Al Qur’an mencatat, keistimewaan manusia “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik kejadian.” (At tiin : 4)

Hidup, tidak mungkin berlangsung statis. Entah dalam skala kecil atau besar, yang jelas dinamika pasti terjadi. Dan kesimpulannya itulah fase hidup, menjalani satu perubahan ke perubahan yang lain (ini gimana sih, baru paragraf 2 udah kesimpulan -_-!).

Adakalanya, mmm.. bukan, seringkalinya, dalam ketidakstatisan tersebut, kita menghadapi berbagai hal yang tidak menyenangkan. Peristiwa – peristiwa diluar ekspektasi kita. Keadaaan yang memaksa melawan sesuatu yang tidak sesuai keinginan kita. Bisa jadi, melawan keadaan itu sendiri.

Kenapa kita perlu melawan ke-statis-an ? karena kita ingin menjadi manusia yang terus L-E-B-I-H. Lebih soleh, lebih cerdas, lebih kaya, lebih keren atau singkatnya lebih baik. Dan siapa sih yang gak pengen hidupnya dari ke hari lebih sukses, makin sejahatera, tambah bahagia?  – when is enough is enough? Never!.

Tapi untuk menjadi bahagia itu bukan masalah yang sederhana. Bahagia itu butuh perjuangan, kawan. Wiih saya masuk Kelompok antimainstream bahwa bahagia itu sederhana :D. Yang sederhana itu rasa syukur, rasa syukur apapun keadaannya. Jadi yang biasa pakai tagline bahagia itu sederhana, kalau saya tak ganti, syukur itu sederhana.

Kenapa Bahagia saya bilang tidak sederhana dan penuh perjuangan?. Karena berubah menjadi lebih baik itu tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh komitmen, butuh eksekusi, butuh disiplin, butuh kesabaran dan itu masih dihadapkan dengan ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan) baik dari dalam (pribadi) maupun Luar (lingkungan)…. udah macam PPKn tulisan ini.

Untuk merubah menjadi lebih baik tersebut, manusia memerlukan komponen terpenting, unit terbatas yang hanya dimiliki olehnya. Yaitu otak tadi. Segala perubahan bisa terjadi karena keputusan pikiran. Pendorongnya bisa macam – macam : semangat, cita – cita, pembuktian dan yang terdahsyat sih pastinya cinta (kamu) eaaa..

Namun sesungguhnya, kalau menurut pengalaman saya, kekuatan pikiran merupakan muara dari segala tindakan , bahkan sebuah keyakinan bisa diperkuat dari bagaimana otak berpikir.

Semua pasti sudah sangat paham flow berikut ya kan :

Karakter <-Kebiasaan berulang – ulang <- Pola Pikir

Saking dahsyatnya kekuatan otak ini filsuf Descartes  mengatakan Cogito Ergo Sum. Saya Berpikir, maka saya ada.

Dengan berpikir, akan lahir sebuah kesadaran, kesadaran inilah yang akhirnya nya melahirkan perubahan.

“Kunci dari kekuataan berpikir, adalah kesadaran” unknown:D

Maka sangat penting, untuk kita menjaga kesadaran tindakan – tindakan kita. Sadar pada ATHG yang kita hadapi, sadar proses melawan ATHG tersebut, hingga akhirnya perubahan itu nyata terjadi. Kesadaran berpikir akan mengendalikan apakah kebiasaan – kebiasaan kita sudah menuju pada karakter dan perubahan yang kita inginkan.

Secara sadar menetapkan target perubahan.

Target harus spesifik, jelas, dan reachable.

Contoh target yang gak spesifik dan jelas itu misalnya, cita – cita hidup : bahagia. Akhirnya apapun kondisinya, yang penting bahagia. Saking gak spesifiknya ,  “gak makan gapapa, yang penting saya bahagia” *nah lo.

Contoh target yang tidak reachable adalah bila anda saat ini menjabat sebagai ketua RT, tiba – tiba target anda ditahun 2014 adalah jadi Presiden RI. Bisa sih bisa, di republik mimpi tapinya :I.

Jadi gunakan pikiran secara sadar, bagaimana dan apa target terbaik yang bisa dilakukan.  Target di tempat berkarir misalnya, spesifik – tentang kenaikan gajikah, kenaikan status dari kontrak jadi tetap, promosi naik jabatankah. Atau bagi yang berbisnis merumuskan nilai omset, target penjualan, jumlah produk.

Reachable sekaligus harus bisa menjawab, kapan target tersebut bisa kita wujudkan. Biasanya sih saya bikin target tahunan. Kemudian target tersebut dipecah kecil – kecil jadi target bulanan.  Mewujudkan taget – target kecil tadi sangat membutuhkan skill support system dan behaviour support system.

Dalam postingan saya yang duluuu banget :

  • Target bekerja di perusahaan2 tahun, setelah itu berbisnis
  • Target diatas dipotong – potong lebih kecil yaitu :
    • mempelajari sistem bagaimana sebuah perusahaan berjalan (sistem pencapaian target kinerja karyawan, cara menetapkan target kerja perusahaan, penggajian karyawan, sampai bagaimana karyawan menggosipkan tempat kerjanya)
    • menjadi expert telekomunikasi (mengusai konsep planning, desain jaringan, mengusai software trafik)

ya kalaulah akhirnya ternyata cuma 6 bulan, bukan 2 tahun, berarti Allah Maha Tahu kesiapan hamba NYA menuju fase selanjutnya lebih dari rencana  manusia itu sendiri :D.

Memperbaiki kebiasaan

Ini yang saya sebut behaviour support system . Bagi saya pribadi, bagian ini adalah terkecil tapi teerrr…sulit disepanjang sejarah perubahan. Terutama merubah kebiasan – kebiasaan internal. Oleh karenanya benar sekali ungkapan Mr. Syaikh Hasan Al Banna tokoh fenomenal pemimpin gerakan ikhwanul muslimin Mesir. Kata beliau, merubah suatu bangsa itu, urutannya begini : merubah diri – merubah keluarga – merubah masyarakat – merubah bangsa. Jadi jangan buru – buru merasa bisa “jadi orang penting yang akan ngurusi rakyat” kalau internal kita belum siap dengan karakter – karakter pelaku perubahan.

Memperbaiki kebiasaaan ini memerlukan kesadaran pikiran yang on charge (alias batere ngga pernah ngedrop :I). Parameternya adalah sudahkah waktu luang kita merupakan tindakan – tindakan yang bermanfaat ?. Tindakan yang menjadikan seorang expert dalam bidang yang ditekuni, tindakan yang mempercepat kita mencapai target perubahan besar yang dirumuskan di no 1.

Jika kesadaran pikiran pada semua tindakan terus kita pelihara, maka ATHG internal berupa rasa malas, menunda – nunda, berkhayal dapat segera dihalau , dengan menyibukan diri dan memaksa diri untuk berubah.

Jadi terapinya supaya kebiasaan bisa cepet berubah. Ya tetep pada kesadaran berpikir tadi. Saat kita khilaf, melakukan hal – hal yang gak manfaat, tiba2 sadar bahwa “harusnya gak begini”, maka segeralah berubah untuk menjadi “seharusnya bagaimana”. *agak ruwet ya kalimatnya @_@

Oya, seperti rumusan buku – buku motivasi, blog ini juga menyarankan hal yang sama : ulangi – ulangi – ulangi kebiasaan baik, agar jadi karakter *njiplak pemirsa :D.

Mengevaluasi tindakan

Perjuangan untuk menjadi lebih baik belum selesai pemirsa. Lakukan ritual kecil, mengevaluasi tindakan yang anda lakukan seharian tadi. Evaluasi secara sadar, siapkan alat tulis dan catat hal – hal yang bahkan anda sendiri tidak suka melakukan itu, karena tindakan itu menjauhkan anda dari langkah menuju target.

Setelah itu “hukumlah” diri anda dengan, masa ’ iya mau begini terus, kalau saya gak segera berubah, jaman tidak bisa menunggu kita berubah. “Hukuman pikiran” ini akan terus membayang – bayangi hari esok kita, efek yang diharapkan tentu saja tidak melakukan kesalahan yang sama.

Enaknya sih memang evaluasi tindakan ini butuh patner, bisa teman yang berada di sekitar kita, orang tua, mentor kehidupan kita atau lebih pasnya sih patner hidup kita ………eaaaaaa *curcol

Udah 3 aja lah ya, yang lain – lain silahkan dikembangkan sendiri sesuai dosis permasalahan yang dihadapi.

Jika, perubahan yang anda inginkan tidak segera terjadi, segera lakukan action – action positif sekonsisten mungkin. Jika perubahan, tetap tidak terjadi, bukan 3 tulisan diatas yang salah, tapi kondisi pikiran Ybs sudah kronis 😀

“Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya Allah sesuai dengan persangkaan hamba-hambanya.”. Maka berpikir baiklah untuk takdir – takdir kita, berpikir baik untuk menggerakkan kita berbuat baik dan tidak melakukan kesia-siaan.


 

 “Seseorang bisa memulai hidup secara berbeda. Dia dapat berpikir secara berbeda, mempunyai perasaan yang berbeda, memiliki hasrat yang berbeda, dan  mencintai secara berbeda. Apabila ini terjadi, maka orang itu secara batiniah telah menjalin hubungan yang lain dengan dirinya sendiri. Dia hidup dengan kekuatan dirinya dan mulai berubah” unknown

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: