Home » secangkir kopi » BERDEBAT

BERDEBAT

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 3,808 other followers

Tamu

  • 20,656 hits

Diantara kita pasti pernah (atau malah sering) melakukan aktivitas ini : berdebat. Mulai dari hal remeh, temeh, politik, undang – undang, sekedar opini bahkan agama, menjadi tema yang membawa seseorang pada arena pertempuran baru : Debat. Bagi yang tidak hati – hati, debat menjadi candu yang membawanya menjadi aktivitas sehari – hari. Pengguna twitter Indonesia, akrab dengan istilah twitwar (debat antar akun twitter). Twitwar menjadi semacam trend, yang tiap hari selalu ada tema – tema baru untuk diperdebatkan.

Sebenarnya apakah yang menyebabkan seseorang berdebat. Perbedaan nilai – nilai ? perbedaan kelompok? Atau memang dalam upaya mencari kebenaran?. Agaknya, landasan berdebat perlu dikembalikan lagi pada azas manfaat, apakah aktivitas tersebut membawa manfaat atau malah sebaliknya.

Bagi saya pribadi, seseorang berdebat itu terjadi karena: beda persepsi, beda tingkat pemikiran dan paling gak banget adalah alasan ketiga, beda kewarasan :P.
Artinya, bila berangkat dari hal – hal yang berawal beda, maka dalam berdebat dapat dipastikan melibatkan emosional, ego dan “rasa ingin diakui” dalam berbagai levelnya. Tak jarang, levelnya adalah menimbulkan kebencian dan dendam (ngeri banget).
Sebaik –baik alasan berdebat, menurut saya adalah diskusi untuk mencari nilai terang akan kebenaran dan kebaikan.

Jika alasan berdebat adalah karena kepentingan, maka selesai sudah, masing – masing akan mempertahankan kepentingan pribadi ataupun golongannya.

NERACA KEBENARAN

Bila perdebatan terjadi dalam rangka mencari nilai kebenaran. Tentu saja kebenaran dalam hal ini adalah kebenaran yang bersifat relatif. Lho bukankah kebenaran bersifat mutlak?. Saya gak pernah belajar tentang filsafat kebenaran, maupun teori kebenaran. Namun menurut saya, kebenaran memiliki sifat mutlak dan relatif sekaligus. Kebenaran bersifat mutlak saat memiliki dasar hukum yang jelas, tertulis, tertafsir dan tidak memiliki celah untuk multitafsir dan dari sumber yang diyakini terpercaya. Oleh karenanya, dalam neraca kebenaran mutlak, perkara benar-salah harus disandarkan kepada suatu hukum; ia bersifat pasti karena ada satu tolok ukurnya (parameter, batasan yang dijadikan ukuran).

perspective

Sedangkan kebenaran relatif, merupakan hal yang tidak mesti salah atau benar akan tetapi tidak bisa semuanya dibenarkan. Karena sifatnya relatif. Maka neraca kebenaran juga tergantung pada alat memperoleh pengetahuan tersebut, baik indera, akal, maupun hati (intuisi). Maka dalam kerangka relatif inilah, menurut saya, diskusi, hingga berdebat diijinkan, yang tidak diperbolehkan adalah merasa paling benar, memaksakan kehendak, melecehkan bahkan mengancam pihak lain.

KEBENARAN ATAU KEBAIKAN

Berdebat tentang kebenaran relatif, pada akhirnya harus dikembalikan pada pilihan masing – masing. Sering kita lihat terjadi perdebatan, baik di milis, social media, ataupun secara langsung, dengan dalih “Mencari kebenaran..”

Celakanya, mereka yang berdebat, sama-sama memegang pendapat akan ‘kebenaran’ masing-masing. Ujung-ujungnya hubungan baik berubah menjadi permusuhan.
Lalu, mana yang terlebih dahulu, kebenaran atau kebaikan ?
Banyak orang berdakwah mengatasnamakan Kebenaran, namun mereka mengorbankan kebaikan. Padahal Nabi Muhammad adalah contoh manusia super baik, jujur, handal, pemurah, santun, pengasih, pemaaf, terbaik dari yang terbaik. Dan hal itu dilakukan sebelum diangkat sebagai Nabi/Rasul alias jauh sebelum mengetahui kebenaran itu apa.
Jadi, saya memilih setelah berdebat, sepenuhnya bagi Allah untuk menentukan kadar benar dan baik kita.

“ Seringkali perbedaan pendapat hanya masalah waktu pemahaman. Bisa jadi hari ini kita berdebat, tahun depan kita sepakat, atau sebaliknya..”.

NB :
Ide nulis ini muncul setelah ngeyel sama temen krn debat. Saya yg ngeyel, dia nya sih kalem2 aja 😐

Advertisements
%d bloggers like this: